Potensi Lahan Pertanian Produktif di Kaltim Bertambah

YOGYAKARTA – Peningkatan produksi pertanian tanaman pangan di Kaltim untuk mencapai swasembada beras pada 2014 kini dititikberatkan pada 50 kecamatan di 14 kabupaten/kota di Kaltim. Jumlah ini bertambah dari data semula yang hanya 35 kecamatan saja.

“Setelah kita mendata ulang, ternyata jumlah kawasan potensial untuk pengembangan tanaman pangan ada 50 kecamatan. Ini menggembirakan karena kecamatan inilah yang menjadi tumpuan Kaltim untuk mencapai berswasembada beras,” ujar Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, H Ibrahim saat menjadi pembicara dalam kegiatan Capacity Building Water Resources Management di Yogyakarta, Rabu (17/4).

Menurut dia, ke 50 kecamatan yang terdata ini memiliki hamparan luas, lahan yang subur, sebagian besar memiliki sarana irigasi, adanya petani penggarap  dan tidak ada ancaman konversi lahan dari sektor lain.

Diharapkan dengan potensi 50 kecamatan ini, dapat menggenjot produksi pangan utamanya padi. Sehingga pada akhir 2013 minimal Kaltim dapat memenuhi kebutuhan beras sendiri tanpa mendatangkan dari provinsi lain.

Hingga pada akhir 2012, kekurangan beras di Kaltim mencapai   87.000 ton yang dipenuhi dari provinsi Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Ironisnya, lahan-lahan di 14 kabupaten/kota di Kaltim terus mendapat ancaman konversi lahan.

Lahan di 50 kecamatan tersebut tidak saja akan ditanami padi, tetapi juga komoditas pangan lain,  contohnya ubi kayu, pisang dan bahan pangan serta jenis hortikultura yang disesuaikan dengan tingkat kesuburan dan kondisi lahan di masing-masing kecamatan.

“Jika satu kecamatan dapat menyediakan 1.000 hektare saja, itu artinuya akan tersedia lahan produktif 50 ribu lahan yang dapat berproduksi sepanjang tahun tanpa ancaman pengurangan di sektor lain,” jelasya.

Sementara itu, Program Food Estate dan Rice Estate, atas saran Menteri BUMN, Dahlan Iskan, Ibrahim menjelaskan untuk dapat mendata potensi lahan yang dimiliki oleh petani dan dijadikan model kemitraan.

Model kerjasama dengan petani ini telah dilakukan ujicoba di Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat yang sukses mengembangkan peningkatan produksi pangan melalui kemitraan antara PT Sang Hyang Sri dengan petani.

“Ini model baru yang dikembangkan Kementerian BUMN, jadi lokasinya tidak mesti satu hamparan tetapi dapat terpisah-pisah. Semoga pola kemitraan ini dapat kita terapkan disamping 50 kecamatan yang telah kita data,” ujarnya.(yul/hmsprov).

Foto : Hamparan sawah yang merupakan lahan potensial untuk peningkatan produksi padi terus dipertahankan agar tidak tergerus, akibat alih fungsi lahan pada kegiatan usaha lain.(dok/humasprov kaltim)

Berita Terkait