Potensi Ubi Kayu di Kaltim Sangat Besar

* Dispertan dan Faperta Unmul Gelar Seminar

SAMARINDA – Potensi ubi kayu yang begitu besar akan menjadi fokus dalam seminar potensi dan olahan ubi kayu  kerjasama antara Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Dispertan) dan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Faperta Unmul) Samarinda pada akhir bulan ini.  
Demikian dijelaskan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kaltim, H. Ibrahim di Samarinda, Kamis  (17/6).   
Pengembangan ubi kayu di Kaltim sebenarnya telah lama dilakukan, begitupun sejumlah penelitian akademisi Universitas Mulawarman (Unmul)  terhadap varietas ubi kayu yang sesuai untuk kondisi tanah dan iklim di Kaltim.  
“Budidaya ubi kayu atau singkong memang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi setelah melalui pengolahan ubi kayu lebih lanjut.  Saat ini jika dijual dalam bentuk segar tanpa olahan, ubi kayu atau singkong ini hanya berharga rata-rata Rp3.000 perkilogram,” kata Ibrahim.   
Dinas Pertanian Kaltim, ujarnya siap mendampingi petani untuk dapat mengolah ubi kayu menjadi berbagai turunan produk lainnya seperti produk tepung Mocaf (Modificated Cassava Flaour) yang harganya lebih tinggi jika ubi kayu dijual segar.  
Untuk menggairahkan penanaman ubi kayu di tingkat petani, Dinas Pertanian Kaltim menyarankan petani untuk dapat membentuk kelompok dan mengajukan pinjaman program Kredit Pangan Sejahtera  ke Bank Pembangunan Daerah Kaltim.  
Di Kaltim terdapat puluhan varietas ubi kayu yang ditanam diantaranya varietas singkong gajah, darul hikmah, adira dan lain-lain. Uniknya, tiap jenis ubi kayu ini memiliki tekstur, serat, warna  dan kandungan tepung pati yang berbeda-beda.  
Lanjut Ibrahim, sebaran ubi kayu di Kaltim telah dikembangkan di Desa Masappa Kota Nunukan, di Kecamatan Bongan Kabupaten Kutai Barat, di Kecamatan Kota Bangun dan Sanga-Sanga Kabupaten Kutai Kartanegara dan beberapa kabupaten lainnya dengan luasan masih terbatas.  
Dalam seminar nanti akan dibahas seluruh potensi dan peluang usaha budidaya ubi kayu.  Ubi kayu tidak saja dapat dikonsumsi untuk menggantikan konsumsi nasi, tetapi juga dapat diolah menjadi tepung modifikasi bahkan ubi kayu dapat diubah menjadi bahan bakar minyak,  bioethanol.  
“Saya baru tiba dari kunjungan ke Korea Selatan, ternyata permintaan terhadap produk-produk pertanian termasuk ubi kayu sangat besar. Untuk itu, kita menggali potensi ubi kayu ini agar dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat ,” pungkas Ibrahim. (yul/hmsprov)

//Foto: Ubi kayu dibudidayakan untuk kesejahteraan petani. (dok/humasprov kaltim).
 

Berita Terkait
Government Public Relation