PPH Masyarakat Kaltim Harus Ditingkatkan

SAMARINDA – Pola Pangan Harapan (PPH) masyarakat Katim masih perlu ditingkatkan. Kondisi ini terlihat dari rendahnya skor PPH yang hanya mencapai 80,7 kalori per kapita per hari.
“PPH kita saat ini memang harus ditingkatkan karena dinilai masih rendah bahkan berfluktuasi. Misalnya, pada 2012 skornya sekitar 80,7 kalori namun pada 2013 turun menjadi 77 kalori per kapita per hari,” kata Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Agustinus Heriyanto saat mewakili Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kaltim pada Sosialisasi menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) di Samarinda, Senin (23/9).
Menurut dia, idealnya skor PPH masyarakat sebesar 100 kalori per kapita per hari yang terdiri dari konsumsi karbohidrat, protein, lemak dan vitamin yang seharusnya seimbang. Namun, konsumsi masyarakat lebih didominasi karbohidrat khususnya beras.
Karenanya, upaya pemerintah untuk melakukan percepatan penganekaragaman konsumsi (diversifikasi) pangan sebagai langkah untuk mengurangi konsumsi beras dengan lebih banyak mengonsumsi sumber karbohidrat dari sumber pangan alternatif lainnya.
Diantaranya, pengembangan komoditi pangan lokal mengandung sumber karbohidrat semacam umbi-umbian, baik singkong, talas dan ubi jalar maupun sukun. Termasuk konsumsi gizi bersumber dari sayur-sayuran maupun ikan serta vitamin bersumber dari buah-buahan.
“Banyak sumber daya lokal yang dapat dikembangkan dan digali untuk mengurangi konsumsi beras dan terigu yang masih diimpor. Sumber daya lokal juga berguna untuk mencukupi pemenuhan PPH agar tercipta sumber daya manusia Kaltim yang berkualitas,” ungkap Agustinus.
Sementara itu Ahli Gizi dari Dinas Kesehatan Kaltim Rohana mengemukakan pola pengembangan program menu B2SA sangat penting, terutama guna memberikan pemenuhan PPH masyarakat.   
“Prinsip B2SA adalah agar konsumsi masyarakat beranekaragam dan bergizi atau yang terpenuhi zat gizi makro berupa karbohidrat, protein, lemak serta zat gizi mikro berupa berbagai vitamin dan mineral,” ujar Rohana.  
Sedangkan seimbang yakni jumlahnya sesuai kebutuhan sesuai usia, jenis kelamin, aktivitas maupun berat badan. Prinsip aman yakni pangan terbebas dari kandungan kimia atau bahan tambahan pangan beranekaragam yang tidak memenuhi kaedah kesehatan baik fisik maupun biologis. (yans/hmsprov)

///FOTO : Gubernur Kaltim DR H Awang Faroek Ishak (tiga dari kiri)saat melakukan panen di kolam budidaya ikan patin milik PKK Bontang yang merupakan salah bahan pangan unggulan lokal.(dok/humasprov kaltim)


 

Berita Terkait