Program Transmigrasi di Kaltim Terus Berjalan

SAMARINDA – Program transmigrasi di Kaltim selama empat tahun terakhir atau selama kepemimpinan Dr H Awang  Faroek terus berjalan dengan berbagai program.    Sejak 2009 hingga 2012 di seluruh Kaltim telah ditempatkan 1.278 kepala keluarga (KK) dengan anggota keluarga sebanyak 4.618 jiwa  
Demikian dikatakan Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim, H. Ichwansyah melalui Kepala Bidang Transmigrasi, Putut Pramono, Rabu (18/9).  
“Dalam dua tahun terakhir saja, telah ditempatkan 600 transmigrasi asal Jawa Timur di lokasi Tanjung Buka, Kabupaten Bulungan dengan latar belakang keahlian sebagai petani tanaman pangan,” ujarnya.
Dijelaskan, untuk kerjasama pengiriman transmigrasi dari Jawa Timur (Jatim) ke Kaltim diawali dengan Nota Kesepahaman dalam sharing pembiayaan. Dalam kesepakatan Pemprov Jatim menanggung pembangunan rumah dengan alokasi dana sebesar Rp. 7,5 miliar.
Sementara itu, Pemrov Kaltim bertanggungjawab untuk fasilitas umum seperti Puskesmas Pembantu, bangunan sekolah dasar, dan alat pertanian berupa hand traktor, alat pemroses padi, pembangkit listrik dan bantuan peralatan saprodi hingga tahun ke tiga.  
Diakui, kemajuan bidang transmigrasi selama satu dekade terakhir terus berjalan tanpa henti, walaupun tidak segencar semasa orde baru. Polanya tidak lagi sentralistik seperti  namun kini telah berubah sesuai dengan kemandirian otonomi daerah. Program transmigrasi saat ini dapat dilaksanakan antar provinsi tanpa melibatkan keterlibatan pemerintah pusat.  
Program trasnmigrasi di Kaltim yang dimulai tahun 1954 di lokasi Kecamatan Petung Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kecamatan Palaran Kota Samarinda dengan puluhan provinsi pengirim diantaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Lampung, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa tenggara Timur.
Untuk 2013, jumlah transmigran yang datang ke Kaltim berjumlah 730 KK dengan realisasi 250 KK atau 663 jiwa dan dalam waktu dekat akan didatangkan sebanyak 50 KK.  
“Keahlian para transmigran ini disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten. Misalnya di Kabupaten Bulungan dengan keahlian di bidang pertanian,” jelasnya. (yul/hmsprov).
 

Berita Terkait
Government Public Relation