Rakyat Kaltim Harus Bersatu untuk Otsus

Gubernur Dialog Soal Otsus

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Dr H Awang Faroek Ishak menegaskan, bahwa perjuangan untuk otonomi khusus (otsus) harus dilakukan secara bersama dengan kekompakan semua komponen daerah ini. Otsus tidak mungkin terwujud, jika Kaltim tidak solid memperjuangkan tuntutan akibat ketidakadilan ini kepada pemerintah pusat.

Hal tersebut ditegaskan Gubernur saat menjadi salah satu nara sumber pada Dialog Politik Daerah membahas perjuangan otsus yang disiarkan langsung Tepian TV dari Plaza Mulia Samarinda,  Jumat (20/2). 

“Syarat utama untuk perjuangan ini kita harus kompak. Kita harus bersatu dalam kesepahaman untuk berjuang menuntut keadilan pusat. Sekali lagi kita harus kompak dan satu suara dalam perjuangan otsus," pekik Gubernur Awang Faroek Ishak dalam komentar di akhir dialog berdurasi dua jam tersebut.

Tuntutan otsus kata Gubernur, bukan berangkat dari keinginan elit daerah. Tuntutan otsus bergelora karena aspirasi rakyat yang sejak lama merasakan ketimpangan akselerasi pembangunan. Kaltim dengan kontribusi besar devisa bagi negara, ternyata tidak juga cukup mendapat perhatian besar. Infrastruktur Kaltim masih buruk, laju pembangunan juga tidak merata karena kondisi geografis yang sulit tidak didukung dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai.

Lebih menyedihkan, tidak jauh dari area-area eksploitasi sumber daya alam di Kaltim itu,  ternyata masih menumpuk rakyat dengan kategori miskin. Triliunan rupiah terus dikeruk dari bumi Kaltim, sementara penikmat utamanya, bukan rakyat Kaltim. Rakyat Kaltim tetap saja miskin dan tetap saja tertinggal.

Kaltim seru Gubernur, harus mengejar kemajuan daerah lain. Rakyat Kaltim pun sudah selayaknya menikmati fasilitas-fasilitas negara, seperti layaknya dinikmati masyarakat di Pulau Jawa.   Jawaban dari itu semua adalah pemberlakuan otonomi khusus. Gubernur sangat yakin, dengan otsus dan pembiayaan yang lebih besar, maka gerak pembangunan Kaltim akan semakin kencang, sehingga keserasian pembangunan pun akan tercipta di Kaltim, tetap dalam bingkai konstitusi dan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI).  

Gubernur menguraikan, desakan otsus lahir bukan dari Pemprov Kaltim, tetapi datang dari gerakan masa yang peduli akan kelanjutan pembangunan daerah ini, baik pembangunan infrastruktur hingga peningkatan kesejahteraan rakyat serta kualitas sumber daya manusia (SDM). 

Untuk memuluskan suara rakyat tersebut, Gubernur  Awang Faroek Ishak sangat berharap dukungan anggota parlemen. Gubernur mengimbau agar anggota dewan bisa turun ke lapangan untuk melakukan sosialisasi ke daerah pemilihannya masing-masing, sehingga gerakan otonomi khusus ini betul-betul diketahui seluruh lapisan masyarakat.

Ibarat bermain sepakbola, Gubernur mengajak komponen daerah ini menerapkan strategi total football (agresif menyerang). Tidak ada yang tertinggal dan semua berjuang sesuai kapasitas masing-masing.

Namun demikian, Gubernur tetap mengingatkan agar perjuangan otsus ini dilakukan konstitusional dan tidak justru dilakukan dengan cara-cara kontraproduktif. Saat ini ujar Gubernur, bola ada di DPRD Kaltim. Karena itu, hasil dari sosialisasi dan keputusan dewan sangat ditunggu rakyat Kaltim untuk melanjutkan perjuangan ini.

“Saya mengundang pejuang atau yang mengaku tim sukses untuk otsus berembuk bersama, bagaimana cara untuk memperjuangkan tuntutan tersebut. Sebagai wakil pemerintah di daerah, saya siap memfasilitasi perjuangan ini. Tetapi, syaratnya ada, yakni kita harus kompak. Artinya, seluruh stakeholder harus kompak,” tegasnya.

Gubernur mengatakan, perjuangan ini akan dimulai dengan kesepakatan bersama untuk otsus dalam rembuk rakyat yang akan dilaksanakan di DPRD Kaltim. Meski demikian, perjuangan tersebut tidak boleh anarkis. Artinya perjuangan ini dilakukan secara konstitusional, santun dan damai hingga mendapat simpati pemerintah pusat dan masyarakat daerah lain.

“Jika masyarakat maupun pemerintah pusat bersimpati, saya yakin otsus akan terwujud. Sebab, yang menjadi tuntutan otsus kepada pemerintah pusat adalah adanya keadilan bagi daerah. Minimal undang-undang tentang perimbangan keuangan daerah berubah,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Laskar Pemuda Adat Dayak Kaltim (LPADKT) Vendi Meru menegaskan agar pemerintah pusat mengabulkan tuntutan rakyat Kaltim ini. Bahkan, diharapkan pusat memberikan kebijakan agar pemerintah daerah dapat mengatur daerah sendiri tanpa ada intervensi dari pusat. Misal, pembangunan jalan tol, ijinnya tidak perlu dari pusat, tetapi cukup daerah saja yang menerbitkan, termasuk ijin perkebunan.

“Karena itu, otsus adalah harga mati bagi Kaltim. Diharapkan anggota DPRD Kaltim juga harus memberikan dukungan tersebut, karena tuntutan ini dari rakyat bukan gubernur,” tegas Vendi Meru.

Ketua DPD KNPI Kaltim Khairuddin mengatakan dasar tuntutan otsus sangat nyata. Sebab, saat ini masih ada rakyat Kaltim yang miskin. Selain itu, sumbangsih dari Kaltim kepada Negara sangat besar, tetapi dana yang kembali ke daerah sangat kecil, sehingga perlu adanya otsus.

“Inilah yang menjadi dasar yang paling kuat untuk berargumentasi kepada pemerintah pusat. Dengan adanya otsus kami yakin akan ada dana yang besar akan diterima daerah untuk pembangunan rakyat Kaltim,” jelasnya.

Di ujung acara, Gubernur Awang Faroek Ishak menyampaikan apresiasi kepada manajemen Tepian TV yang dapat menyelenggarakan kegiatan semacam ini. Dialog politik tersebut menghadirkan nara sumber dari DPD RI asal Kaltim Aji Muhammad Mirza Wardana dan tim pakar otsus asal Unmul Bernaulus Saragih.

Hadir dalam talk show tersebut sejumlah anggota DPRD Kaltim, Kepala SKPD di lingkungan Pemprov Kaltim, tokoh pemuda, agama dan organisasi masyarakat serta akademisi dari Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta. (sul/jay/hmsprov)

////Foto : Gubernur Awang Faroek Ishak dalam Dialog Politik Daerah membahas tuntutan otonomi daerah. Gubernur juga nampak santai berdiskusi dengan Direktur Pokja 30 Carolus Tuah yang selama ini dikenal sangat getol mengkritisi berbagai kebijakan gubernur. (fajar/humasprov)  

 

Berita Terkait
Government Public Relation