Ramadhan Mulia di Tengah Corona


"Covid-19 membawa banyak hikmah dan pembelajaran pada umat manusia."

 

Perintah menjalankan ibadah puasa kepada umat Islam tertera di dalam Kitab Suci Al Qur’an Surat Al Baqarah 183, 

“Yaa ayyulal ladzi na’amanuu kutiba’alaikumus syiyam mukama kutiba’lal ladzi namin qoblikum la’allakum tattaquuun”, 

Artinya; "Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa"

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, karena Allah SWT menjanjikan ampunan dan ganjaran pahala yang berlipat ganda. Karena itu, mereka yang sempat bertemu dengan Ramadhan berupaya memanfaatkan bulan suci ini dengan sebaik-baiknya dengan meningkatkan amal ibadah kepada Allah SWT, meningkatkan kualitas diri dan mengabdikan diri untuk kebaikan atau kemaslahatan masyarakat dan umat manusia pada umumnya.

Sebab itu Ramadhan dijadikan sebagai momentum yang sangat berharga. Tidak saja berpuasa menahan  makan–minum sebulan penuh, tetapi juga dimanfaatkan untuk belajar, menambah ilmu dan pengetahuan, sekaligus kembali menguatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan memperbanyak amal ibadah, baik yang Wajib maupun Sunah seperti Shalat Tarawih Berjamaah. Dengan demikian syiar Islam sedunia pun semakin tampak semarak penuh nuansa agamis yang sangat berbeda dibanding sebelas bulan sebelumnya.

Baca Juga : Pekan Ini BLT DD Disalurkan

Namun di luar dugaan, Virus Corona (Covid-19) saat ini melanda dunia yang menyebabkan ribuan korban sudah meninggal dunia, sementara obat penyembuhnya belum ditemukan. Takut dan kecemasan membayangi pikiran dan perasaan manusia. Karena itu seluruh pemerintah di dunia berusaha keras menyelamatkan rakyatnya  dari Covid-19. Gubernur Kalimantan Timur H Isran Noor dan Wakil Gubernur H Hadi Mulyadi juga telah mengeluatkan kebijakan serta imbauan seperti menggalakkan cuci tangan, meningkatkan imunitas tubuh, dan menjaga jarak hubungan fisik. 

Masyarakat diimbau tinggal di rumah dan tidak bepergian. Pemerintah pun bahkan telah menghentian penerbangan pesawat udara, kereta api dan mengawasi ketat perjalanan kendaraan darat. Pusat-pusat perbelanjaan tutup, pabrik dan usaha ekonomi serta jasa juga banyak ditutup, hunian penjara dikurangi, sekolah dan perguruan tinggi libur, rumah ibadah tutup, ASN kerja dari rumah, dan lain sebagainya, karena hanya dengan begitu cara ampuh menghentikan penyebaran Covid-19, yakni mengurangi pergerakan dan pertenmuan massa. 

Baca Juga : Dampak Covid-19 Dispar Kaltim Tunda Even Berskala Nasional

Dampak Covid-19 tidak terkecuali juga mengubah kehidupan di Kalimantan Timur yang umat Islamnya lebih dari 80 persen dari penduduk lebih dari 3,6 juta jiwa. Jika Ramadhan sebelumnya penuh dengan suasana semarak ritual keagamaan seperti adanya shalat Tarawih berjamah, pengajian dan khatam Qur’an, seminar dan dialog, majelis taklim, tabligh akbar, ‘Begerakan Sahur’, lomba seni islami, musabaqah Al Qur’an, safari Ramadhan, pemberian santunan anak yatim dan dhuafa, dan lain-lain. Kini nyaris terhenti semua.  

Covid-19 memunculkan pelemahan ekonomi, kinerja dan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Namun demikian sesungguhnya bukan berarti tidak ada jalan lain untuk mencapai berkah, ampunan, ridha Allah dan kemuliaan Ramadhan. Umat Islam dapat melakukan ibadah di rumah dengan khusuk, berinteraksi harmonis dengan keluarga, meningkatkan kepedulian, rasa empati, solidaritas  terhadap sesama, bersilaturrahim dengan tetangga dan masyarakat luas meski tetap waspada dan menjaga jarak.

Baca Juga : Stok Daging Aman Sampai Hari Raya Idul Fitri

Covid-19 membawa banyak hikmah dan pembelajaran pada umat manusia. Kalau selama ini sumber daya alam  bumi terus dieksploitasi tanpa batas, dunia hiruk pikuk dengan kegembiraan, suka-cita mengumbar hawa-nafsu, keserakahan dan menebar dosa, maka kini semuanya harus berhenti. Covid-19, adalah cara Allah menegur dan menguji manusia. Karena itu, jadikan bumi tidak rusak dan tercemar lagi. kembali terjaga secara sehat dan umat manusia kembali kepada fitrahnya, jika tidak hendak murka Tuhan dan bala bencana kian menjadi-jadi.

Jejak Kelana tinggalkan kampung,
Berharap nyata hidup berubah.
Jejak Corona tak berujung,
Berharap kita berhenti sudah.

 

(hadri/humasprov kaltim).

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong