Rela Mendaki Tebing Curam Demi Goa Bloyot

Kunker BLH dan TNC Kaltim ke Kabupaten Berau (3)

Suasana Kampung Merabu nampak cerah, kicauan burung menyambut pagi. Walau cuaca dingin, bukan hambatan bagi rombongan BLH dan TNC Kaltim untuk beranjak dari pembaringan. Pagi itu, Sabtu (14/11) rombongan dijadwalkan mengunjungi Goa Bloyot yang jaraknya sekitar  lima kilometer dari desa berpenduduk sekitar 250 jiwa.

Karena belum ada penginapan, peserta menginap di rumah–rumah penduduk. Sambutan yang begitu ramah dari warga Merabu membuat pengunjung kian betah tinggal di desa itu.

Rombongan kecil yang diikuti sejumlah warga desa, mengawali perjalanan ke Goa Bloyot. Sepanjang jalan desa terlihat kabel berwarna hitam menjuntai ke tanah, meskipun terdapat tiang penyangga lilitan kabel tersebut.

Kepala Desa Kampung Merabu, Frenly Oley mengatakan  kabel tersebut merupakan jaringan listrik yang merupakan bagian dari program Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan arus sungai setempat.

Sayangnya kincir pembangkit listrik tersebut rusak, sehingga belum bisa dimanfaatkan untuk penerangan listrik bagi warga desa. Sebagai alternatif warga Merabu memanfaatkan penerangan listrik tenaga surya bantuan pemerintah. Selain itu warga juga menikmati penerangan listrik dengan mesin genset pribadi.

“Harapan kita perbaikan PLTMH ini, segera dilakukan agar warga segera menikmati penerangan listrik murah dan sepanjang hari. Ada informasi kalau Pemkab Berau segera memperbaiki PLTMH ini, semoga ini benar dan kami sangat mengharapkan itu,” kata Franly.

Berjalan sekitar satu kilometer,  rombongan telah meninggalkan kampung dan nampak tertulis “Selamat Datang di Goa Bloyot”. Melihat papan nama itu, sebagian anggota rombongan tampak lega. Namun itu ternyata salah, karena dibalik papan nama itu tertera tulisan lagi “Goa Bloyot 4 kilometer".

Namun, hal itu tidak menyurutkan semua peserta untuk melanjutkan perjalanan memasuki kawasan hutan karst yang alami, nampak terlihat berbagai jenis batang pohon dengan diameter di atas satu meter.

Menyusuri hutan yang lebat dan begitu dingin, tidak mematahkan semangat peserta untuk terus berjalan, apalagi di sisi kiri jalan nampak aliran sungai yang jernih dan bebatuan yang khas hutan karst. Selain itu sepanjang jalan terdengar kicauan burung dan hewan liar yang mengiringi perjalanan tersebut.

Setelah berjalan sekitar 1,5 jam nampak terlihat gunung-gunung karst berdiri kokoh di balik rimbunan pepohonan hutan, sekaligus sebagai penanda bahwa Goa Bloyot tidak jauh lagi. Namun perjalanan yang semula datar, kini agak bergelombang karena harus berjalan diantara bebatuan bukit karst.

Ternyata benar, sekitar 20 menit kemudian sampailah di kawasan Gunung Karst   Goa Bloyot. Sejumlah petugas yang merupakan warga setempat telah menyiapkan peralatan pendakian berupa tali-temali serta helm pengaman, termasuk lampu penerangan untuk memasuki goa.

Setelah beristirahat sekitar 15 menit, satu persatu peserta mulai menuju lokasi pendakian di sisi kanan gunung karst, dimana terletak Goa Bloyot yang dimaksud. Memasuki Goa Bloyot harus ditempuh dengan menaiki gunung dengan kemiringan sekitar 45 derajat dan semakin ke atas kemiringan kian terjal hingga mencapai 45 derajat.

Dengan kemiringan tersebut, setiap orang harus menggunakan tali dan helm  pengaman untuk keselamatan, karena setiap orang harus mendaki tebing gunung yang tingginya sekitar 30 meter untuk mencapai Goa  Bloyot.

Semua peserta nampaknya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, termasuk Kepala BLH Kaltim, Riza Indra Riadi untuk melihat goa yang menyimpan peninggalan sejarah purbakala, berupa gambar telapak tangan yang usianya sekitar 2.000 tahun.

Sesampainya di mulut goa, rasa lelah yang dirasakan sepanjang perjalanan  hingga pendakian terbayar sudah, terpesona dengan kondisi goa. Apalagi melihat langsung lukisan atau gambar telapak tangan dan gambar beberapa hewan di dinding goa. Langit-langit goa yang indah dan basah kian memperindah goa.

Dari atas goa itu,  pengujung juga dapat melihat kondisi sekitar, termasuk jajaran gunung karst yang berjajar dan menjulang tinggi seakan menantang langit, sehingga menambah kekaguman manusia terhadap pesona alam yang merupakan ciptaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Puas menikmati Goa Bloyot, peserta menuruni bagian belakang goa yang juga dengan kemiringan 45 derajat, namun jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima meter, kita akan langsung masuk ke dalam ruang goa lainnya, mekipun harus tiarap karena lubang goa yang kecil.

Namun setelah itu, kita akan kembali mengaggumi ruang-ruang goa yang seakan di sekat-sekat dalam beberapa dinding sehingga membentuk ruang-ruang terpisah. Tiang-tiang goa yang terbentuk dari stalakmit dan stalaktit, seolah menjadi tongkat besar untuk memperkokoh goa.

Ribuan kelelawar nampak beterbangan di atap goa, mata laba-laba dalam goa memantulkan cahaya dari lampu center pengunjung, bak intan beterbaran di dinding goa. Tidak kalah indahnya, stalaktit dan stalakmit yang merupakan percampuran air dan batu kapur juga memancarkan kilauan bagaikan titik berlian.

Tidak sia-sia rasanya perjalanan sekitar dua jam dan menempuh jarak lebih dari lima kilometer dan mendaki tebing terjal, untuk melihat goa  dalam pergunungan karst di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay, Berau. (eko susanto/sul/hmsprov-bersambung).

 

Foto: Suasana dan gambar telapak tangan di dinding  Goa Bloyot pada  Pengunungan Karst Kampung Merabu. (Fadliansyah/humasprov kaltim).

 

Berita Terkait