Revolusi Mental Petani Peternak

 Percepatan Populasi Dua Juta Sapi Kaltim

SAMARINDA – Perlu dilakukan revolusi mental dan  perubahan mindset (pola pikir) petani peternak di Kaltim dalam setiap kegiatan peternakan di lapangan, khususnya dalam upaya percepatan pencapaian populasi "Dua Juta Sapi Kaltim".

“Memang perlu dilakukan revolusi mental di segala bidang sesuai keinginan Presiden Joko Widodo. Kita sudah punya program dua  juta ekor sapi tentu perlu perubahan pola pikir peternak melalui revolusi mental,” kata Kepala Dinas Peternakan Kaltim H Dadang Sudarya.

Perubahan pola pikir itu antara lain,  apabila selama ini seorang petani peternak hanya mampu memelihara dua atau lima ekor sapi, maka dengan revolusi mental,  minimal  mereka bisa memelihara lima puluh bahkan seratus ekor sapi bagi setiap peternak.

Dia menyebutkan dua juta ekor  sapi yang digadang Pemprov Kaltim melalui kebijakan Gubernur Awang Faroek Ishak sangat sesuai dengan potensi dan keunggulan kewilayahan yang dimiliki Kaltim.

Melalui pemeliharaan ternak dalam skala besar seperti lima puluh bahkan seratus ekor sapi bagi setiap peternak tentunya program dua juta sapi dapat dicapai. Juga, dalam skala ekonomi pasti lebih banyak memberikan penghasilan dan pendapatan bagi peternak.

Dijelaskan Dadang, dalam waktu atau periode tahun 2015 ini akan datang 10.950 ekor sapi jenis Brahman Cross dari Northern Toriterry Australia. Khususnya 10 ribu betina produktif alokasi dari APBN perubahan dan 950 ekor dari APBD provinsi.

“Sapi-sapi unggulan dari Australia itu sudah diploting bagi petani peternak maupun kelompok peternak yang tersebar di sepuluh daerah utamanya kabupaten dan kota di Kaltim yang sudah diseleksi dan mendapatkan pelatihan pola pemeliharaannya,” jelas Dadang.

Pada awalnya pemelihraan sapi-sapi dari Australia itu akan diintegrasikan dengan perkebunan kelapa sawit maupun lahan-pahan eks tambang batu bara. Namun, dilihat dari spesifikasi ternak impor itu maka akan dilakukan pemeriharaan sistem ekstensif.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Hewan Edith Hendartie mengemukakan kondisi alam Kaltim hampir tidak berbeda dengan dengan kondisi alam di Northern Toriterry Australia, sehingga dalam pemeliharaan tidak jauh berbeda.

“Sapi jenis Brahman Cross memang bukan sapi lokal. Tapi  cuaca atau iklim Kaltim tidak jauh berbeda dengan Benua Australia khususnya bagian utara dan timur. Suhu dan kondisi bahkan jenis tanamannya sama dengan Indonesia. Panas, gersang dan padang rumput sehinga untuk pola pemeliharaan dan pakan tidak akan sulit,” ujar Edith Hendartie. (yan/sul/hmsprov)

///Foto:  Peternakan Sapi di Kaltim.(dok humasprov kaltim)

 

 

Berita Terkait