Rumah Sakit Ketergantungan Obat di Kaltim Beroperasi 2016

SAMARINDA - Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Kaltim yang merupakan salah satu fasilitas dari yang dibangun Pemprov Kaltim untuk rehabilitasi pecandu penyalahgunaan Narkotika dan Obat-obatan berbahaya (Narkoba) siap beroperasi pada 2016. RSKO ini akan menggunakan bangunan bekas RSUD AM Parikesit di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Sekarang bangunan rumah sakit tersebut memang masih digunakan oleh pihak RSUD Parikesit. Namun setelah kegiatan rumah sakit pindah ke bangunan baru di Tenggarong Seberang, RSKO akan mulai bisa beroperasi,” kata Asisten Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kaltim, Drs H Bere Ali, belum lama ini. 

Direncanakan, pada 28 Desember 2015, RSUD Parikesit sudah pindah ke bangunan baru. Meskipun demikian, bangunan bekas RSUD Parikesit tersebut tidak serta merta bisa langsung digunakan.

“Perlu beberapa renovasi dan kesiapan dari tenaga kesehatan yang akan melayani para pecandu Narkoba yang berobat. Sehingga, pada 2016 baru bisa secara resmi beroperasi,” sebutnya.

Dia mengatakan, sejumlah pasien yang akan dirawat adalah memang murni berstatus sebagai korban penyalahgunaan Narkoba. Bila statusnya pengguna dan pengedar, tentunya akan berhadapan dengan hukum.

“Bagi pengedar dan terlebih lagi adalah produsen Narkoba, akan dikenakan hukum seberat beratnya. Tidak ada lagi toleransi, harus ditindak tegas,” katanya.

Fasilitas RSKO untuk mendukung Deklarasi Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahgunaan Narkoba. Dengan deklarasi tersebut, secara nasional akan ada 100.000 pecandu yang direhabilitasi. Sedangkan Kaltim targetnya merehabilitasi sekitar 2.000 lebih pecandu Narkoba.

“Sekarang progress untuk memenuhi program tersebut tengah berjalan. Kita akan terus sediakan fasilitas bagi para pecandu ini untuk proses rehabilitasi,” tambahnya.

Selain RSKO yang baru akan beroperasi pada 2016, Pemprov Kaltim selama ini telah memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung terciptanya proses rehabilitasi yang terintegrasi. Salah satu yang terbesar adalah Balai Rehabilitasi BNN di Tanah Merah, Samarinda. Balai rehabilitasi tersebut diresmikan Gubernur Kaltim, Dr H Awang Faroek Ishak bersama Kepala BNN Pusat, Dr Anang Iskandar, pada 11 Agustus 2014.(aka/es/humasprov)

Berita Terkait
Government Public Relation