Rusmadi: Kaltim Bisa Adopsi Teknologi Pompa Hidram

Sistem Irigasi Pertanian untuk Daerah Pedalaman

SAMARINDA – Pelaksana Tugas Sekprov Kaltim Dr H Rusmadi menyatakan ketertarikannya untuk mengadopsi inovasi teknologi pompa hidram tenaga air melalui sistem balon pada katup tabung untuk sistem pengairan pertanian di Kaltim maupun dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih di daerah pedalaman yang belum terjangkau listrik.
Inovasi teknologi tersebut merupakan hasil karya dari Sudianto, warga Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah yang berhasil mendapatkan Anugerah Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Labdhakretya) pada puncak peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-18 di Jakarta belum lama ini.
“Teknologi pompa hidram ini sangat murah dan dapat dikembangkan di Kaltim, terlebih bagi daerah-daerah perdesaan dan pedalaman yang tidak memiliki potensi sumber daya air atau tidak dilewati aliran sungai,” ujar Rusmadi usai berbincang dengan Sudianto usai acara penganugerahan belum lama ini.
Rusmadi menjelaskan teknologi pompa hidram menggunakan tekanan air yang mengalir karena perbedaan tinggi dan tekanan hidrolik untuk menaikkan air ke tempat yang lebih tinggi. Dengan teknologi ini, sumber mata air yang letaknya jauh atau berada di lembah yang terjadi bisa menjadi berkah bagi desa yang letaknya jauh sekalipun.
Pompa hidram tidak memerlukan tenaga listrik atau bahan bakar apapun. Pompa hidram yang telah dimodifikasi mampu mengangkat air sampai ketinggian vertikal 50-80 meter (head) dan mampu mengantar air sampai jarak dua kilometer pada keadaan ideal. Debit air pada head 30-50 meter sebesar 30 liter/menit mampu melayani penduduk satu buah desa.
Keunggulan teknologi ini, yaitu mempunyai head (daya angkat air vertikal) berkisar 50-80 meter sehingga mampu menaikkan air bersih dari sumber mata air yang terletak di jurang terjal. Biaya perakitan hidram relatif murah dengan umur teknis 25 tahun. Biaya perawatan komponen relatif murah yaitu hanya mengganti klep katup limbah dan klep kupu-kupu yang terbuat dari ban bekas setiap dua tahun sekali.
“Pompa hidram dapat diterapkan di kawasan pelosok yang membutuhkan pompa untuk menaikkan air, namun belum terjangkau aliran listrik,” katanya.
Selain itu, lanjut dia, teknologi seperti ini sangat dimungkinkan untuk mensupport sektor pertanian dalam arti luas yang saat ini tengah dikembangkan oleh Pemprov. Rusmadi berharap daerah-daerah yang tidak memiliki potensi irigasi pertanian dapat mengadopsi inovasi teknologi pompa hidram, sehingga kebutuhan pengairan untuk sawah dapat terpenuhi. (her/hmsprov).

///FOTO : Sejumlah kawasan persawahan di pedalaman perlu sistem irigasi yang disesuaikan dengan kondisi alam setempat, salah satunya melalui inovasi teknologi pompa hidram.(dok/humasprov kaltim)


 

Berita Terkait
Government Public Relation