Saatnya Beraksi, Bukan Basa Basi

Foto : Gubernur Awang Faroek bersama Duta Besar Norwegia (duduk kiri) dan para gubernur di dunia lainnya pemilik hutan tropis yang bersepakat mencegah deforestasi dan degradasi hutan serta bersepakat membangun rantai pasok yurisdiksi untuk pembangunan ekonomi hijau berkelanjutan dengan pelibatan se

 

(Catatan Awang Faroek)

Saatnya Beraksi, Bukan Basa Basi

 

Sekira sebulan lalu Kaltim sukses menjadi tuan rumah Governors’ Climate and Forest Task Force (GCF) Annual Meeting 2017. Saya menulis sedikit catatan ringan. Yakin tak sebagus tulisan Pak Zainal Muttaqin, apalagi Pak Dahlan Iskan, tapi tetap saya tayangkan. Sedikit telat,  tapi mudah-mudahan belum basi.

 

~~~~~~~~~~~~~~

 

Confucio Moura,  menebar pujian, dan terdengar lebih banyak. Yang lain serempak tersenyum. Jujur saya tersanjung, kemudian sedikit menoleh saya membalas dengan senyuman.   Saya tak mendengar kalimat Moura sebagai pemanis, tapi sebuah kejujuran yang tulus. “Sangat melelahkan, acara padat sejak pagi, berhari-hari, tapi Pak Awang masih duduk bersama kita, hingga sore ini. Semangatnya patut menjadi teladan,” ucap Moura. Saya tidak akan lupa. Walaupun  Moura bukan orang timur, tapi ucapannya memberi kesan kental, sangat menyentuh budaya ketimuran, tentang bagaimana bersikap santun dan menghargai orang lain.

 

Kami mengenal Moura sebagai Gubernur Provinsi Rondonia, Brazil. Bersama para gubernur dari provinsi  dan Negara bagian Anggota GCF lainnya, dia hadir dalam Governors’ Climate and Forest Task Force (GCF) Annual Meeting 2017 di Balikpapan, 25-29 September 2017. Pertemuan rutin 38 gubernur dari provinsi dan Negara bagian dunia yang memiliki komitmen tinggi untuk melindungi hutan, menahan laju deforestasi dan degradasi hutan dengan mengedepankan konsep pembangunan hijau berkelanjutan rendah emisi, dimana Kaltim didaulat menjadi tuan rumah dan saya dipercaya menjadi Chairman GCF 2017.  Penghargaan bagi Kaltim yang harus dibayar dengan sukses  menjadi tuan rumah yang baik.

 

Dengan penampilan plontos, Moura sepertinya kurang suka tumbuh rambut di kepalanya. Tapi tidak demikian ketika dia berbicara soal hutan. Dia sangat tidak sependapat hutan tropis digunduli. Dan pendapatnya senada dengan kami para gubernur Anggota GCF yang berkumpul di Balikpapan. “Rapat tahunan ini membangun komitmen kita untuk menjaga air dan hutan demi anak cucu. Janganlah kita mengulang kesalahan masa lalu. Jangan ada lagi deforestasi. Kesepakatan Pembangunan Hijau Kalimantan Timur yang melibatkan semua stake holder akan menjadi inspirasi bagi kami warga Rondonia,” kata  dia.

 

Moura hanya satu contoh dari sekian banyak gubernur di dunia yang memiliki kepedulian terhadap penyelamatan hutan dan berjuang untuk menahan laju perubahan iklim akibat panas matahari yang tertahan dalam area efek gas rumah kaca. Melestarikan hutan akan menahan meningkatnya panas bumi agar tidak mencapai 2 derajat celcius pertahun hingga melelehkan tumpukan es di kutub utara dan menyebabkan perubahan cuaca yang sangat ekstrem. Jumlah air laut akan bertambah signifikan karena mencairnya kutub utara hingga berpotensi menenggelamkan sebagian bumi. Sementara di sisi yang lain kemarau berkepanjangan dengan panas luar biasa akan semakin membuat bagian-bagian bumi kian gersang dan kering hingga menyebabkan kematian flora dan fauna, bahkan manusia.

 

Saya juga mencatat komentar Gubernur Provinsi Acre, Tiao Viana  juga dari Brazil. Pandangannya kira-kira seperti ini.  “Dulu kita tidak paham, dan baru sekarang menyadari ancaman perubahan iklim. Oleh karena itu, kita harus menemukan jalan pintas untuk membalikkan krisis ekologi ini agar bisa kembali normal. Kita harus membuat base line agar dunia tahu. Bahwa sekarang kita sedang berpikir dan berjuang  untuk mencegah ancaman perubahan iklim dengan menekan deforestasi dan degradasi hutan.  Kita butuh dukungan akademisi, masyarakat dan semua elemen. Semua harus terlibat untuk memikirkan kondisi darurat bumi ini. Tanggung jawab untuk melindungi bumi adalah tugas kita bersama.” Pernyataan lebih keras bahkan dilontarkan Gubernur Victor Noriega Reategue dari Provinsi San Martin, Peru. “Anda punya uang, kami punya hutan, jangan hanya menekan. Bantulah kami menjaga hutan. Kami bukan peminta-minta karena kami sesungguhnya adalah mitra anda (Negara-negara maju).”

 

Para gubernur Anggota GCF seluruhnya kompak untuk menyelamatkan hutan dan membuat rantai yurisdiksi demi menghasilkan komoditas pertanian secara berkelanjutan dengan mengurangi deforestasi, seperti tertera pada poin pertama “Balikpapan Statement”. Pada waktu bersamaan di Taman Bekapai Balikpapan, beberapa orang mengatasnamakan kelompok pegiat lingkungan melakukan protes. Mereka menyebut Kaltim tidak layak menjadi tuan rumah GCF karena Kaltim belum melakukan apa-apa.

 

Saya katakan, tidak ada sedikitpun niat saya untuk berpretensi dengan mengatakan bahwa kami sudah melakukan banyak dan semuanya berhasil. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa sejak 2009 lalu kami sudah berusaha dan berjuang untuk menyelamatkan hutan Kaltim dan mendorong pembangunan ekonomi hijau berkelanjutan. Saya mulai dengan bertemu dengan Gubernur California kala itu, yang juga artis Hollywood ternama, Arnold Schwarzenegger. Kami bersepakat membentuk Governors’ Climate and Forest Task Force (GCF) dan kini beranggotakan 38 gubernur provinsi dan Negara bagian di dunia pemilik hutan tropis.

 

Pada 2010, saya menggagas kampanye Kaltim Green (Kaltim Hijau) melalui Kaltim Summit I. Sebuah seruan agar masyarakat Kaltim memiliki kepedulian untuk menanam minimal 5 pohon (one man five trees/omfit). Kampanye hijau ini disambut baik masyarakat dan perusahaan-perusahaan dengan memperbanyak aksi tanam pohon.  Gerakan tanam pohon dan menjaga hutan untuk pembangunan ekonomi hijau berkelanjutan diperkuat lagi pada tahun 2016 dengan komitmen melibatkan semua pemangku kepentingan dalam Green Growth Compact (GGC).

 

Komitmen ini lebih kita perkuat lagi dengan Kesepakatan Pembangunan Hijau Kalimantan Timur melibatkan semua pemangku kepentingan dan disaksikan para gubernur provinsi dan Negara bagian Anggota GCF. Aksi lain yang sudah kita lakukan untuk mencegah berlanjutnya penggundulan hutan adalah dengan menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 17 Tahun 2015 tentang Penataan Pemberian Izin dan Non Perizinan serta Penyempurnaan Tata Kelola Perizinan di Sektor Pertambangan, Kehutanan dan Perkebunan Kelapa Sawit. Dan sejak itu, tidak ada ijin baru yang kita keluarkan.

 

Menurut saya, upaya-upaya pelestarian lingkungan dan hutan harus kita lakukan bersama-sama, mulai sekarang. Saatnya kita beraksi, bukan sekadar basa-basi. Kami sudah lakukan, dunia pun (Negara-negara donor) sudah menyaksikan. REDD+ Berbayar (Carbon Fund) pun akan segera  kita dapatkan dari hutan Berau 2018-2024. Dari GCF kami juga mendapat kepastian, bahwa Pemerintah Norwegia sudah menyiapkan US$ 25 juta yang dapat diakses Anggota GCF melalui UNDP.

 

Rinciannya, US$ 13 juta untuk strategi masing-masing provinsi dan Negara bagian. Dengan catatan maksimal US$ 400 ribu dan rencana strategi jatuh tempo pada 31 Maret 2018. Selanjutnya US$ 5 juta untuk dana inovasi (akan tumbuh dari waktu ke waktu) dan US$ 3 juta untuk strategi regional yang seluruhnya akan dikeluarkan pada 2020. Saya juga terkesan dengan komentar,  Rukka Sombolinggi dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). AMAN hadir di GCF 2017 Balikpapan, bersama perwakilan Allianza Mesoamericana de Pueblos y Bosques (AMPB) dan La Coordinadora de las Organizaciones Indigenas  de la Cuenca Amazonica (COICA). Mereka adalah perwakilan 3 komunitas adat dunia yang menyatakan dukungan untuk  “Balikpapan Statement”.

 

“Kami mendukung semua komitmen yang dituangkan para gubernur Anggota GCF dalam Balikpapan Statement. Dukungan kami untuk memastikan komitmen para gubernur berjalan baik dan bukan hanya sebuah komitmen di atas kertas. Kami ingin kemitraan yang seimbang, karena kita memiliki tujuan yang sama untuk menjaga bumi kita. Seperti keinginan para gubernur,  apa yang   dinikmati generasi sekarang, juga harus bisa dinikmati generasi mendatang. Jangan tinggalkan kami, karena anda tidak sendiri. Kami butuh kalian dan kami pun butuh kalian.”

 

Pendapat yang menurut saya sangat bijak yang seharusnya mampu menyatukan kita semua untuk bergandeng tangan, menyingsingkan lengan baju demi menyelamatkan hutan demi dunia yang lebih cerah. Yang pasti Kaltim akan bekerja   keras untuk dapat memberikan kontribusi kepada Indonesia mewujudkan penurunan emisi karbon hingga 29 persen dengan kemampuan sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030. #saatnya beraksi, bukan basa-basi#

Berita Terkait