Sambut Bonus Demografi dengan Generasi Produktif

 

BKKBN Kaltim Gelar Sarasehan Kependudukan 2014

 

SAMARINDA - Kalimantan Timur harus segera menyiapkan generasi-generasi produktif memasuki bonus demografi yang sudah mulai terjadi sejak 2012 dan diprediksi akan berakhir pada sekitar 2045.

Penyiapan generasi produktif andal, berkualitas dan berdaya saing harus dilakukan agar generasi Kaltim tidak justru lebih banyak menjadi 'penonton' di negeri sendiri, seiring pemberlakuan ASEAN Economic Community 2015.

"Puncaknya pada 2028 sampai tahun 2031, dimana 100 penduduk usia produktif menanggung hanya 47 penduduk usia tidak produktif. Itulah puncak bonus demografi. Selanjutnya akan terus meningkat. Karena itu, kita harus menyiapkan usia-usia produktif itu benar-benar menjadi produktif dan berdaya saing," kata Deputi Bidang Pengendalian Penduduk BKKBN, Wendy Hartanto pada Sarasehan Kependudukan 2014 di aula Rektorat Universitas Mulawarman Samarinda, Kamis (20/11).

Penyiapan generasi produktif jelas Wendy Hartanto memerlukan koordinasi menyeluruh dari seluruh pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan, baik di daerah maupun di pusat. Penyiapan generasi produktif diantaranya dengan membekali generasi muda dengan ilmu pengetahuan dan kompetensi yang tepat sesuai kemampuan masing-masing dan tentu saja mengarahkan mereka menjadi generasi berencana (genre).

Generasi yang memiliki rencana masa depan yang baik tentu harus diarahkan untuk tidak mendekati pergaulan bebas atau seks bebas dan narkoba. Generasi muda harus dilatih untuk dan dipersiapkan untuk memiliki kemampuan dan keunggulan untuk menyiapkan hidup mereka di masa depan dengan kualitas dan daya saing tinggi.

"Tentu kita tidak ingin pada saat memasuki masa produktif, generasi muda kita justru terjerat narkoba, terkena HIV/AIDS atau menikah secara dini, padahal mereka sendiri belum memiliki bekal yang cukup. Kalau generasi kita tidak produktif, maka generasi kita hanya akan menjadi buruh di negeri sendiri," tegas Wendy.

Wendy memprediksi, kegagalan mempersiapkan generasi pada masa bonus demografi tersebut diprediksi akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Bonus demografi akan membuat beban menjadi ringan, karena jumlah usia produktif yang dua kali lebih besar dari penduduk usia tidak produktif akan mendorong perolehan pajak bagi negara yang lebih besar, yang pada akhirnya dapat dioptimalkan untuk pembangunan di segala aspek pembangunan.

Sementara Staf Ahli Gubernur Bidang Pendidikan, Sigit Muryono menyambut baik kegiatan yang digelar Perwakilan BKKBN Kaltim sehingga akan lebih banyak generasi muda dan masyarakat memahami pentingnya menyiapkan generasi produktif pada masa bonus demografi tersebut.

"Atas nama Pemprov Kaltim tentu kami menyambut baik kegiatan semacam ini.  Menyongsong bonus demografi yang puncaknya akan terjadi pada sekitar tahun 2030 dan berakhir pada 2045, Pemprov Kaltim telah melakukan persiapan diantaranya adalah rencana besar pembangunan kepemudaan Kaltim secara bertahap perlima tahun," kata Sigit.

Saat ini, lanjut Pemprov juga tengah mendorong pengarusutamaan kepemudaan. Dimana pembangunan kepemudaan tidak hanya diserahkan kepada satu satuan kerja (Dinas Pemuda dan Olahraga) saja, tetapi menjadi tanggungjawab semua penanggungjawab kepentingan kepemudaan.

"Contoh, kami bekerja sama dengan BNN agar terhindar dari narkoba, kerjasama dengan balai latihan kerja untuk pengembangan keterampilan pemuda dan lainnya. Upaya-upaya ini akan terus kami lakukan," imbuhnya.

Kepala Perwakilan BKKBN Kaltim, Yenrizal Makmur menambahkan, BKKBN  Kaltim akan terus melakukan kampanye untuk mengajak generasi muda untuk hidup bersih dan sehat serta melewati fase-fase kehidupan mereka secara terencana. Pada fase sekolah, maka mereka harus bersekolah. Selanjutnya pada fase bekerja, maka mereka sudah harus siap dengan kemampuan untuk bekerja. Berikutnya, ketika mereka sudah mampu menyiapkan masa depan, maka mereka sudah siap memasuki fase berkeluarga.

"Kalau fase itu dilompat-lompati, itu akan jadi masalah. Fase sekolah mereka sudah harus menikah. Saat harus bekerja mereka tidak punya kemampuan. Kalau sudah begitu, maka saat bonus demografi berlangsung, maka generasi kita hanya akan jadi buruh dan bahkan masih menganggur. Ini tidak boleh terjadi dan harus kita antisipasi," tegas Yenrizal. (sul/es/hmsprov)

Foto: Sejumlah siswa SLTA ini akan menjadi generasi produktif pada masa bonus demografi.

 

 

Berita Terkait
Government Public Relation