Tak Perlu Khawatir, Proyek Kereta Api Terus Berjalan

Mahasiswa Kaltim yang tengah belajar di Rusia, jadwal yang full day, praktek yang padat, magang di stasiun kereta di Rusia hingga praktek lapangan langsung di Russian Railways

Proyek kereta api  dihapus, itu memang benar.  Namun, proyek yang dihapus adalah proyek strategis nasional (PSN) yang dananya bersumber dari pusat atau APBN. Sedangkan proyek kereta api yang bekerjasama dengan Rusia, masih terus berjalan.

“Proyek ini berbeda dengan PSN. Jalurnya pun berbeda. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan PSN. Proyek ini murni investasi dari Rusia,” tegas Tri, Kepala Biro Humas Setda Prov Kaltim, menanggapi berita yang beredar akhir-akhir ini. Tri  menjelaskan, kereta api PSN merupakan interkoneksi antar provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur. Rencananya, jalur kereta api PSN dan rel kereta api kerja sama dengan Rusia akan dipadukan. Namun, kereta api PSN belum terlihat fisiknya. Sedangkan kereta api kerja sama dengan Rusia sudah ada fisik dan progressnya jauh lebih maju.“Pihak Pemprov Kaltim membantu dari segi perizinan dan SDM (sumber daya manusia),” ujar Tri.

SDM yang dimaksud antara lain mahasiswa Kaltim yang kuliah di Rusia. Mereka dipersiapkan untuk mengelola kereta api kerja sama antara Pemprov Kaltim dan Rusia.  Telah tiga tahun ini putra-putri terbaik di Kaltim diseleksi untuk kuliah di Rusia. Ada 50 orang setiap angkatan yang diberangkatkan, sehingga total mahasiswa Kaltim di Rusia sebanyak 150 orang. 


Kegiatan praktek ukur tanah di Rusia (Foto : Istimewa)

 

Berkat kerjasama yang terjalin dengan baik,  dana beasiswa yang dikucurkan tidak murni dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim yakni melalui Beasiswa Kaltim Cemerlang, tapi juga share dengan pihak Rusia. 

“Orangtua tidak perlu khawatir. Hingga saat ini, beasiswa masih berjalan dan akan terus dilanjutkan. Biaya akomodasi dan cost of living sudah ditanggung dari Pemprov Kaltim. Sedangkan biaya pendidikan, asuransi dan penelitian dibantu oleh pihak Rusia,” terang Kepala Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Pemprov Kaltim Tri Murti Rahayu, saat diwawancarai, Kamis (19/4).

Dia mengatakan, mahasiswa yang mendapat beasiswa kuliah di Rusia ini merupakan hasil penyeleksian ketat. Ada tiga tahapan yang harus dilalui sebelum dinyatakan lolos seleksi. Tak hanya sekadar teori, tes juga berupa wawancara langsung dengan orang Rusia. Pendidikan yang akan mereka tempuh selama 6 tahun. Tahun pertama hanya fokus untuk pengenalan bahasa Rusia. Kemudian pada tahun berikutnya, mahasiswa telah fokus belajar teori dan praktik. 


Salah satu kegiatan kuliah di dalam Ruangan (Foto: Istimewa)

 

Menanggapi kabar yang beredar, Maya Fatmini, salah seorang orangtua yang anaknya kuliah di Rusia sama sekali tidak khawatir sebab ia tahu pasti proyek yang dihapus adalah proyek PNS bukan kerjasama dengan Rusia. Selama ini putrinya yang bernama Zana Sarifa Yusrima telah berjuang dan belajar keras di Rusia. Pembelajaran yang full day, praktek yang padat, magang di stasiun kereta di Rusia hingga praktek lapangan langsung di Russian Railways merupakan kegiatan sehari-hari Zana Safira.

“Di sana (Rusia) dia dan teman-temannya benar-benar mandiri. Mulai dari masak sendiri, ikut berorganisasi dan bersosial serta mengenalkan budaya Indonesia terutama Kaltim,” ujar Maya.

Jeviers Antonio, salah seorang mahasiswa Kaltim yang kuliah di Saints Petersburg State University of Railways juga sama. Laki-laki asal Samarinda Seberang tersebut mengatakan, mahasiswa asal Kaltim tidak semua ditempatkan di kampus atau kota yang sama. Semua menyebar dan memiliki bidang masing-masing. Jeviers mengambil jurusan rolling stock. Pada jurusan tersebut, dia mendalami tentang perbaikan dan perawatan kereta api untuk semua jenis, baik kereta api jenis barang maupun penumpang.

“Kesulitan paling utama itu bahasa. Cara mengatasinya sering-sering mengulang dan berkomunikasi dengan teman sekelas terutama orang Rusia. Mereka membantu berbicara, kalau ada kesulitan dibantu. Tidak pelit ilmu,” tutur Jeviers saat diwawancarai pada Jumat (20/4).

Dia mengatakan, kuliah di Rusia sejak 2014 lalu yang merupakan angkatan pertama. Juni mendatang, Jeviers akan praktek di Kereta Api Indonesia (KAI) di Yogyakarta. Persiapan sudah banyak dilakukan untuk menyongsong praktek dimaksud. Iapun tak menampik jika selama di Rusia ia  belajar sangat keras. Sehingga nilai yang ia peroleh tidak mengecewakan dan tidak ada yang jelek. 

“Kami pasti kembali untuk membangun dan mengabdi di Kaltim. Terima kasih buat Tuhan Yang Maha Esa, keluarga, dan terutama Pemprov Kaltim karena telah diberikan kesempatan dan kepercayaan. Pemberian beasiswa selama ini selalu on time, tidak pernah terlambat,” ujar dia. (yuv/Ni/TimHumasprov)

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong