Tamu GCF Mulai Berdatangan

Tri Murti Rahayu

 

BALIKPAPAN – Tiga hari  jelang penyelenggaraan Satuan Tugas Gubernur untuk Hutan dan Iklim (Governors’ Climate and Forests Task Force atau GCF) tamu-tamu dari provinsi dan Negara Bagian Anggota GCF sudah mulai berdatangan. Mereka memilih datang lebih awal, selain berharap tidak terlambat mengikuti forum peduli perubahan iklim ini, mereka juga  ingin memanfaatkan waktu untuk menikmati  keindahan dan sejuknya alam Heart of Borneo. “Sejumlah tamu dari negara lain sudah mulai berdatangan hari ini (kemarin). Kita sambut mereka dengan sebaik-baiknya,” kata Kepala Biro Humas Pemprov Kaltim Tri Murti Rahayu, Minggu (24/9).

 

Sejumlah tamu yang sudah tiba di Balikpapan antara lain Gubernur Viktor Noriega Reátegui dari San Martin, Peru, Wagub Neyra Aleman dari Piura, Peru dan Wagub Storck Rosalia dari Huanuco, Peru. Tamu dari provinsi dan Negara Bagian Anggota GCF lainnya akan menyusul pada Senin dan Selasa. Demikian juga para gubernur dari provinsi lainnya di Indonesia. Tri Murti menambahkan, berdasarkan catatan panitia penyelenggara sejumlah pejabat sudah memastikan kehadirannya dalam forum dua tahunan ini. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar akan hadir bersama sejumlah pejabat teras Kementerian LHK.

 

Gubernur Awang Faroek Ishak akan hadir dan bertindak sebagai tuan rumah. Acara juga akan dihadiri Gubernur  Ben Ayade dari  Provinsi Cross River State,  Nigeria, Gubernur Confúcio Moura dari Provinsi Rondônia,  Brazil, Gubernur Gilmer Horna Corrales dari Provinsi Amazonas,  Peru.  Gubernur Sebastião Viana dari Provinsi Acre,  Brazil, Gubernur Simão Jatene dari Provinsi Para,  Brazil. Gubernur Guillermo Antonio Kubes Robalino dari Provinsi Pastaza,  Ecuador dan Gubernur Suely Campos dari Provinsi Roraima,  Brazil, keduanya sebagai GCF Observer. Dan  Wagub Claudia Lelis dari Provinsi  Tocantins,  Brazil.

 

Sementara dari dalam negeri gubernur yang akan hadir adalah Gubernur Domingus Mandacan dari Provinsi  Papua Barat, Gubernur Cornelis dari Provinsi Kalimantan Barat, Gubernur Lukas Enembe dari Provinsi Papua dan Gubernur Sugianto Sabran dari Provinsi Kalimantan Tengah. Proses acara kata Tri Murti akan dimulai pada Selasa malam (26/9) dengan malam penyambutan (welcome dinner). Kemudian rapat-rapat pembahasan isu lingkungan dan perubahan iklim akan dilakukan para Rabu dan Kamis. “Acara  akan ditutup dengan closing dinner pada Kamis malam mendatang. Mudah-mudahan acara ini berlangsung sukses dan lancar,”  pungkas Tri.

 

Rapat tahunan ini akan membahas isu-isu perubahan iklim, deforestasi dan pembangunan rendah emisi. Pertemuan 35 Gubernur dari provinsi dan Negara yang menguasai sepertiga hutan tropis dunia itu akan melahirkan "Balikpapan Statement". Pernyataan Balikpapan ini akan mengurai sebuah peta jalan aksi regional ke nasional dan global untuk menghambat laju deforestasi, mendorong pembangunan berkelanjutan dan mengatasi perubahan iklim. Balikpapan Statement dimaksudkan untuk menyatukan pemerintah, perusahaan, masyarakat dan petani guna mencari cara praktis mengimplementasikan komitmen menekan deforestasi tropis, mendorong pembangunan rendah emisi dan menahan laju perubahan iklim.

 

Balikpapan Statement akan menggabungkan pesan-pesan tersebut melalui tiga agenda utama. Agenda pertama mengidentifikasi cara bagaimana yurisdiksi menghasilkan komoditas pertanian secara berkelanjutan melalui kerja sama dengan konsumen agar mengurangi deforestasi. Agenda kedua, perlindungan hak-hak masyarakat adat dan pada saat yang sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya yang tinggal di wilayah negara bagian dan provinsi anggota GCF.

 

Agenda ketiga adalah mencari cara untuk menjamin bahwa anggota GCF bisa meraih pendanaan yang diperlukan untuk mengurangi deforestasi, mendukung pembangunan rendah emisi dan melindungi hak-hak masyarakat adat. Sementara Badan Sekretaris Pengurus Institut Penelitian Inovasi Bumi (Inobu), Bernardinus Steni sangat berharap melalui kepemimpinan para gubernur dari Amerika Latin, Afrika dan Indonesia akan terwujud optimis pembentukan inisiatif global baru yang lebih berani untuk memerangi perubahan iklim. "Caranya dengan melindungi hutan, serta memberikan hak dan kesejahteraan orang-orang yang berada di sekitar hutan,” kata Steni.

 

Inobu sendiri adalah perpaduan dinamis dari tenaga ahli terpandang yang berkomitmen untuk membantu petani menghasilkan komoditas-komoditas pertanian tanpa merusak lingkungan dan kehidupan sosial. Melalui penelitian, Inobu telah dikembangkan inovasi-inovasi kebijakan dan aplikasi teknologi informasi yang telah diuji di lapangan dan kemudian diadopsi di Negara-negara yang bermitra. (sul/ri/humasprov)

Berita Terkait
Government Public Relation