TASYAFAKURAN AFI KE 70 (SOSOK SEDERHANA GUBERNUR KESAYANGAN KITA)

Awang Faroek Ishak Potong Tumpeng Bersama (Foto: Sehan Humasprovkaltim)

SAMARINDA - Dipenghujung Juli 2018 lalu, Awang Faroek Ishak, memasuki usia yang sudah tidak muda lagi. Meski masih menyisakan bell’spalsy yang belum memulihkan sebagian kecil otot kakinya (sehingga masih perlu bantuan kursi roda), Awang Faroek Ishak terlihat segar bugar. Senyum sumringah mewarnai tasyafakuran, yang digelar oleh keluarga besarnya Selasa (31/7) di Ballroom Hotel Senyiur Samarinda. Didampingi istri, anak-anak dan cucu-cucunya, Awang didaulat memotong nasi tumpeng sebagai rasa syukur telah memasuki usia ke 70 tahun. 

IMG_3455

Rumah Awang Faroek dilahirkan dan dibesarkan di Jalan Awang Sabran.(Foto: Sehan Humasprovkaltim)

IMG_3421

Awanng bersama ayah dan ibu dan saudara-saudaranya (Foto: Sehan Humasprovkaltim)

 

Sosok pekerja keras yang setiap harinya bangun pukul 03.00 dini hari ini, tak mengenal hari libur atau istirahat. Disaat sebagian orang masih terlelap, ia sudah siap dengan ponselnya, mengarahkan bawahannya melalui pesan WA. Bahkan hari Sabtu pagi ia sudah terlihat rapi dan siap ke ruang kerjanya. Meski seringkali diingatkan ajudannya jika hari libur, Awang tetap bekerja. Memimpin rapat koordinasi di hari libur tetap dilakukan, apalagi jika ada yang urgent. 

Sosok merakyat yang tak pernah membedakan-bedakan siapapun yang ingin bertemu dengannya,  tentulah memiliki hobi yang bisa membuatnya relax, meskipun barang sejenak. Jika kerinduan mendera, Awang pulang kampung, kemasa kecilnya, tanah kelahirannya, di Tenggarong. Sebuah kursi berusia tua, yang berada tepat di samping halaman rumah menjadi tempat favoritnya untuk bersantai. Pagi hari di kota raja, teh manis dan roti gembong berselai sarikaya menemaninya. 

Rumah sederhana peninggalan almarhum ayahanda yang terletak di Jalan Awang Sabran, merupakan tempat Awang ‘ngadem’ sejenak dari rutinitas. Anak, cucu dan keponakan yang berada di Tenggarong, kerap berdatangan jika mendengar Awang tengah berkunjung ke rumah Tenggarong. Mbok Rum tukang pijat (tukang urut) langganan sesekali dipanggil membantu meluruskan otot-ototnya yang letih.

IMG_3445

Lemari peninggalan masa kecil di kamar masa kecil Awang Faroek.(Foto: Sehan Humasprovkaltim)

IMG_3430

Kamar istirahat dengan perabot sederhana di rumah masa kecil.(Foto: Sehan Humasprovkaltim)

Di rumah penuh kenangan inilah, Awang dilahirkan 70 tahun yang lalu. Kota Tenggarong, rumah kediamannya, banyak menyimpan kenangan indah, kisah masa kecilnya, dan tentu saja masa remajanya. Kamar tempat Awang dilahirkan dan dibesarkan masih terus terjaga. Di kamar itu masih terdapat lemari jati tempat menyimpan pakaian masa kecilnya. Ia pun memiliki kamar mungil yang dilengkapi perabot sederhana di rumah masa kecilnya ini. 

Jika Awang bertandang, dengan penuh cinta keponakannya menyuguhkan masakan khas Kutai yang menjadi kesenangan Awang. Sebut saja kareh ikan baong, kareh terong jawa, pengat ikan haruan, rojak cabe singkil jukut keli, lodeh cabe hijau jukut patin, gangan terong asam ubi jalar. Dan yang paling menjadi favoritnya, kareh jukut baong. Istri, anak-anak, cucu, menemaninya santap bersama di ruang makan yang sederhana, terletak paling belakang di rumah Tenggarong. 

Uniknya, bangunan ruang makan keluarga ini masih bangunan lama yang sederhana, dan belum dipugar. Kebersamaan makan bersama seperti ini mengingatkan Awang kembali kemasa kecilnya, ketika ia bersama sepuluh saudaranya serta ibu dan ayahandanya mengelilingi meja makan. Saking disiplinnya, makanpun mereka harus bersama. Tak boleh meninggalkan meja makan sebelum mereka semua menyelesaikan santap malamnya.

Pernah satu malam, saat makan malam. Jen (Jenal Suratman) sahabat Awang yang hari itu bertugas meminta ijin ke ayahanda Awang Faroek hampir gagal melaksanakan misinya. Awang yang mendengar teman-temannya datang, tak sabar berdiri sebelum menghabiskan makanannya, “Jangan awak bangkit, jangankan jen, jenderal aja awak ndik bisa bangkit sebelum pupus makan!” Ujar ayahnya waktu itu. 

Ya, Awang yang dididik dengan disiplin yang tinggi harus mendapat ijin terlebih dahulu oleh ayahnya sebelum keluar rumah. Baik dalam rangka kegiatan beroganisasi, ngeband (Awang yang jago beryanyi didaulat sebagai vokalis dan memegang bass dalam grup band mereka bernama Gesna Ria) atau menonton film India yang waktu itu tengah tren di kampung halaman. 

Hobi menonton ini masih terus melekat hingga sekarang. Koleksi CD di kamarnya lumayan banyak. Terkadang ditemani istri tercinta ia menonton di XXI. Seperti baru-baru ini, Awang meluangkan waktu menonton film Mission Impossible-Fallout yang dibintangi Tom Cruise. Tema film seperti inilah yang menjadi favoritnya akhir-akhir ini.  

Sosok pekerja keras tak kenal lelah ini, selain diterpa kedisiplinan sejak masa kecil, juga ditanamkan jiwa entrepreneur oleh kedua orangtuanya. Sepulang sekolah ia membantu kakaknya berjualan di warung kecil dekat bioskop. Tak sedikitpun ada rasa malu berjualan kacang dengan merek Awang.co. Keuntungan yang lumayan ia pergunakan untuk menambah uang saku.

Awang memang sosok yang sederhana. Sejak dahulu hingga sekarang. Siapa nyana Gubernur dua periode ini menyukai camilan berbahan dasar singkong. Sekali-kali ditemani istrinya, ia menyantap penganan kesukaannya itu. Singkong Thailand di Plaza Mulia menjadi pilihannya.  Singkong dengan taburan santan dan paduan gula yang dikentalkan inipun menjadi favoritnya. “Nda usah jauh jauh ke Thailand, di Samarinda juga bisa makan singkong Thailand.” Ujarnya sambil bercanda.

Begitulah Gubernur kesayangan kita dalam melepas penat dengan cara paling sederhana. Makan kuliner favoritnya atau menonton film di layar lebar. Meski berlimpah pengabdian dan karya besar yang telah dihasilkan selama dua periode kepemimpinannya, Awang Faroek Ishak tetaplah sosok sederhana sepanjang masa. Ia kian bersahaja di usianya yang ke 70 tahun. (Ni/Humasprovkaltimprov)

Berita Terkait
Data Masih Kosong
Data Masih Kosong
Government Public Relation