Ternak Sapi Berkembang di Kawasan Eks Tambang

* Pembangunan Peternakan Kaltim Berbasis Cluster
Sesuai dengan program pembangunan peternakan khususnya ternak sapi, maka Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Peternakan melakukan kebijakan pengembangan peternakan berbasis cluster atau kawasan.
Tipologi pembangunan berbasis cluster terbagi atas beberapa kegiatan diantaranya pengembangan peternakan melalui kawasan pengembalaan atau ekstensif  (sistem pembudidayaan ternak) maupun semi intensif yakni pemanfaatan kawasan eks tambang batu bara.
Program pengembangan ternak sapi melalui pemanfaatan eks tambang batu bara telah dilakukan pemerintah terutama dengan dukungan pihak perusahaan selaku pemilik lahan dengan memberdayakan masyarakat sekitar.
Misalnya, memberikan ijin atau kesempatan bagi masyarakat setempat yang merupakan kelompok tani ternak untuk menggembalakan ternaknya di kawasan eks tambang. Bahkan, dibantu penyediaan sarana penggembalaannya lainnya.
“Selama ini kita telah melakukan dukungan pengembangan ternak sapi bagi beberapa kelompok tani ternak. Tahun ini akan diberikan kepada tiga kelompok di Kabupaten Kutai Kartanegara yang memiliki kawasan eks tambang di desanya,” kata Plt. Kepala Dinas Peternakan Kaltim H Dadang Sudarya.
Bantuan tersebut berupa ternak sapi Bali masing-masing sebanyak 50 ekor terdiri dari 45 betina dan lima pejantan. Sapi bantuan tersebut untuk kegiatan pembibitan, khususnya dalam upaya meningkatkan populasi ternak sapi indukan di Kaltim.Sedangkan, kelompok tani ternak yang diberikan bantuan yakni Kelompok Tani Ternak Gunung Kelulut Desa Separi dan Kelompok Tani Ternak Hidup Jaya Desa Kertabuana Kecamatan Tenggarong Seberang untuk kawasan eks tambang PT Kitadin.
Kelompok Tani Ternak Aman Jaya Kecamatan Sebulu untuk kawasan eks tambang batu bara PT Multi Harapan Utama. Sementara itu disalurkan bantuan pengembangan pakan ternak melalui program HMT (Hijauan Makanan Ternak).
Bantuan pengembangan HMT diberikan kepada Kelompok Tani Gunung Jamuan Desa Embalut Kecamatan Tenggarong Seberang. Kelompok ini tahun lalu telah diberikan bantuan pengembangan ternak sebesar Rp300 juta dan insentif sapi betina bunting Rp200 juta.
Dadang mengakui sejak dibantu pada 2011 lalu perkembangan dan populasi peternakan sapi Desa Embalut itu selalu meningkat bahkan saat ini sudah mencapai 400 ekor.
“Selain untuk indukan atau pembibitan juga penggemukan atau sapi potong,” ujarnya.Bahkan, berkat meningkatnya populasi ternak Kelompok Gunung Jamuan Desa Embalut itu maka pihak perusahaan telah memberikan ijin bagi penggembalaan di areal eks tambang mencapai 200 hektar selain dibantu kawat untuk pemagaran (kandang sapi).
Menurut Dadang, sesuai dengan keinginan Gubernur Awang Faroek agar pembangunan peternakan mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di pedesaan. Bahkan mampu membuka peluang usaha guna mengurangi angka pengangguran dan pengentasan kemiskinan.
“Karenanya, Disnak telah berkomitmen untuk memberikan perhatian dan dukungan prioritas berupa penyaluran bantuan bagi pengembangan peternakan di Kaltim. Apalagi, di daerah kita terdapat kawasan eks tambang batu bara yang banyak dengan luasan areal mencapai puluhan ribu hektar,” ungkap Dadang Sudarya.
Ditambahkannya, tipologi pembangunan ternak lainnya yakni pengembangan kawasan padat penduduk yang pemeliharaannya dilakukan sistem intensif. Misalnya, kegiatan penggemukan maupun integrasi ternak dengan tanaman pangan ataupun tanaman hortikultura.
Selain itu, pembangunan peternakan untuk kawasan perbatasan Kaltim khususnya pengembangan kegiatan peternakan di Kabupaten Malinau serta Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Kutai Barat.
Sementara itu Petugas Peternakan UPT Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kecamatan Tenggarong Seberang Marbanu menyebutkan dalam kawasan/wilayah kecamatan lingkup tugasnya meliputi 18 desa terdapat 37 kelompok tani. Sehingga setiap desa sudah memiliki kelompok tani yang menggunakan pola pemanfaatan lahan eks tambang yang beroperasi di sekitar desa tersebut dengan populasi ternak mencapai 1.300 ekor lebih.
“Sejak dikembangkan pada 2006 hingga saat ini populasi ternak yang dilakukan kelompok tani ternak di beberapa desa di kecamatan ini mencapai ribuan ekor. Walaupun, permasalahan tetap terjadi khususnya serangan penyakit cacingan atau serangan kutu babi namun dapat diatasi secara intensif,” jelas Marbanu.
Untuk saat ini populasi ternak sapi Kaltim mencapai 108.000 ekor, sedangkan guna mencapai program Swasembada Daging Sapi/Kerbau 2014 minimal 350.000 ekor, berarti masih diperlukan perkembangan populasi tiga kali lipat dari posisi sekarang. (masdiansyah/hmsprov)

//Foto: SANGAT COCOK. Ternak sapi berkembang dengan baik di kawasan eks tambang Embalut, Tenggarong Seberang. (masdiansyah/humasprov kaltim).


 

Berita Terkait