Transformasi Ekonomi Hijau Kaltim


SAMARINDA – Hasil penelitian British Petroleum menyebutkan sisa energifosil dunia (minyak bumi, gas dan batu bara) tinggal 52 tahun.  Sedangkan untuk Indonesia, sisa energi nasional untuk gas bumi tersisa 103,3 triliun cubic feet atau sekitar 50 tahun.  Sementara batu bara tersisa 136 miliar ton atau sekitar 83 tahun akan habis dan minyak bumi tersisa 3,7 miliar barrel, yang diperhitungkan sekitar 10 tahun akan habis.
Demikian halnya, cadangan energi fosil Kaltim untuk gas bumi tersisa 24,96 triliun cubic feet atau 20 tahun akan habis. Batubara tersisa 25,13 miliar ton atau sekitar 90 tahun dan cadangan minyak bumi tersisa 765,75 miliar barrel atau 10 tahun akan habis.
“Sumber daya tidak terbarukan kita semakin menipis bahkan menuju kehabisan. Kaltim harus mentransformasi ekonomi,” kata Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak pada Profesor Present Transformasi Pembangunan Kaltim Pro Rakyat di Samarinda, Senin (3/5).
Transformasi yang digadang Pemprov Kaltim untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yakni ekonomi hijau sebagai antisipasi sektor ekonomi berbasis sumber daya tidak terbarukan.
Diakuinya, periode 1990-2000 sektor pertambangan migas dan pengilangan minyak bumi  serta gas alam cair mulai mengambil alih atau mendominasi ekonomi Kaltim. Walaupun tingkat pertumbuhan ekonomi relatif lebih rendah dibanding periode sebelumnya yakni maksimal sebesar 5,71 persen pertahun.
Pada periode 2000-2012 sektor tambang non migas, utamanya batu bara menggeser posisi sektor tambang migas dalam pembentukan PDRB (produc domestic regional bruto). Pada 2001 kontribusi sektor pertambangan batu bara terhadap PDRB yang semula sebesar 11,9 persen meningkat tajam menjadi 28,4 persen pada 2011.
Sementara, kontribusi pertambangan minyak dan gas bumi mulai menurun dari 23,8 persen tahun 2001 menjadi 21,6 persen pada 2011. Pergeseran itu lanjutnya, diikuti dengan penurunan sektor industri pengolahan berbasis migas dari 36,2 persen pada 2001 menjadi 21,8 persen pada 2011.
“Transformasi ekonomi yang kita lakukan sekarang ini sangat penting dalam tahapan pelaksanaan ekonomi hijau pada tahun-tahun berikutnya. Kita harus siap menghadapi pertumbuhan ekonomi pasca batubara dan migas,” tegas Awang Faroek Ishak. (yans/sul/es/humasprov

Berita Terkait