Tumbuhkan Budaya Membaca Kepada Anak Usia Dini

Tumbuhkan Budaya Membaca Kepada Anak Usia Dini

 

SAMARINDA – Menciptakan masyarakat yang cerdas dapat dimulai dengan mengajarkan kepada anak-anak pentingnya membaca. Badan Perpustakaan Provinsi Kaltim dengan rata-rata kunjungan 700 hingga 800 orang per harinya terus mengupayakan promosi budaya membaca mulai dari lapisan terdini pendidikan, yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Setiap minggunya, dilakukan tiga kali kunjungan dari anak-anak PAUD maupun TK di Samarinda untuk belajar ke perpustakaan provinsi.

“Satu kali kunjungan biasanya terdiri dari 40 hingga 60 anak. Ketika mereka melakukan kunjungan ke perpustakaan, kami berikan materi berupa dongeng, cerita dan menjelaskan bagaimana cara memanfaatkan fasilitas perpustakaan secara benar,” jelas Kepala Bidang Informasi dan Otomasi Badan Perpustakaan Provinsi Kaltim, Taufik di ruang kerjanya, Senin (12/10). 

Sejak tahun 2012, Badan Perpustakaan Provinsi Kaltim gencar mengadakan sosialisasi ke PAUD dan TK di Kaltim, khususnya Samarinda untuk menumbuhkan kesadaran dan budaya membaca dalam diri anak-anak. Selain itu, sosialisasi tersebut juga ditujukan agar mereka secara rutin dapat melakukan kunjungan ke perpustakaan. 

“Yang membuat kami senang adalah sekarang telah timbul kesadaran dari pihak sekolah untuk melakukan kunjungan belajar secara mandiri dan dengan biaya sendiri. Tentu saja kesadaran sekolah-sekolah ini kami sambut dengan baik dan kami dukung dengan fasilitas yang memudahkan para siswa untuk belajar,” sambung Taufik.

Fasilitas tersebut berupa buku-buku anak yang jumlahnya lebih dari 1.000 judul, arena bermain mini di dalam ruangan, hingga berbagai permainan yang mengasah kemampuan otak anak, seperti catur.

Selama ini lanjut Taufik, mayoritas pengunjung perpustakaan adalah kalangan mahasiswa. Sebanyak 70 hingga 75 persen pengunjung perpustakaan provinsi Kaltim adalah mahasiswa. 

“Jika libur perkuliahan tiba, maka tingkat kunjungan ke perpustakaan juga jadi menurun. Maka, sekarang kami pun mencoba untuk ‘menjemput bola’ dengan menggalakkan program perpustakaan keliling,” terang Taufik. 

Saat ini, sebaran perpustakaan keliling ditingkatkan dari 15 titik ke 23 titik. Ke-23 titik tersebut tersebar di Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara dan di seluruh lembaga permasyarakatan yang ada di Kota Samarinda dan Tenggarong. 

“Kunjungan dari para narapidana pun direkap setiap harinya. Meskipun berstatus sebagai narapidana, tidak ada yang dapat membatasi mereka untuk berburu ilmu pengetahuan. Karena itulah, kami juga sediakan perpustakaan di setiap lembaga permasyarakatan,” imbuh Taufik.

Dilanjutkannya, sumbangsih perpustakaan keliling terhadap data pengunjung pun cukup besar. Rata-rata kunjungan di setiap perpustakaan keliling tersebut setiap harinya mencapai 50 hingga 100 kunjungan. 

Hal ini membuktikan, budaya membaca di Kaltim tidak hanya dipusatkan di gedung perpustakaan saja, tetapi juga bergerak secara fleksibel menyentuh lapisan-lapisan masyarakat yang tidak memiliki akses untuk menuju gedung perpustakaan, seperti para narapidana.  (aka/sul/hmsprov)

Foto: KESADARAN SEKOLAH. Siswa TK sedang membaca di Perpustakaan. (dok/humasprov kaltim).

 

Berita Terkait
Government Public Relation