Usaha Penggemukan Sapi Potensial di Kaltim

OL Peserta Seminar dan Konseling PNSD Purna Tugas 2018 ke Jogjakarta (1)

Peserta Seminar dan Konseling Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) Purna Tugas 2018 di lingkungan Pemprov Kaltim yang mengikuti  Orientasi Lapangan (OL) ke Yogyakarta tampak terkagum-kagum melihat deretan sapi jenis simental dan limusin dengan bobot 500 hingga 800 kilogram di peternakan penggemukan sapi milik keluarga Ilham Akhmadi di Desa Segoroyoso, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.

Kekaguman tersebut wajar,  karena hanya dengan lahan sekitar 1.000 meter persegi, Keluarga Ilham Ahmadi mampu memelihara sekitar 150 dari 250 ekor sapi yang digemukan  pada tiga lokasi dengan total luasan sekitar 3.000 m2 dan kemudian dalam waktu empat  hingga enam bulan dijual kembali dengan keuntungan signifikan.

Tidak terkecuali Asisten IV Bidang Administrasi Umum H Sofyan Helmy dan  Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kaltim, HM Yadi Robyan Noor yang mendampingi 80 peserta seminar dan konseling tersebut.

Sejumlah peserta nampak antusias mendengar penjelasan pemilik peternakan, yakni Ilham Akhmadi, terkait usaha penggemukan sapi yang dikelola secara turun temurun sejak 30 tahun tahun lalu itu.

Walupun usaha tersebut merupakan warisan keluarga, namun metode pemeliharaan selalu diperbaiki sesuai dengan kemajuan teknologi dan kondisi di lapangan, sehingga mampu menghasilkan produksi ternak yang maksimal dan mencapai keuntungan signifikan.

Ilham menjelaskan secara lahan, Yogyakarta memiliki keterbatasan sehingga berupaya memanfaatkan pemeliharaan dengan pemberian pakan yang mampu mempercepat pertumbuhan sapi tanpa harus digembalakan.

“Hal ini kita lakukan, karena areal penggembalaan yang memang sempit. Selain itu, jika sapi hanya mengandalkan makan rumput pertumbuhannya tidak secepat jika diberi pakan tambahan, sebagaimana yang kita terapkan di peternakan ini,” katanya.

Menurut dia, ratusan sapi yang diperlihara di peternakan tersebut setiap hari mendapat makanan berfariasi, antara lain campuran dedak, singkong, bekatul dan bahan makanan lain yang memacu pertumbuhan sapi lebih cepat, termasuk jenis rumputan sebagai pelengkap pakan.

Dalam kesempatan itu, Ilham mengatakan ternak penggemukan sapi memiliki potensi sangat cerah, termasuk di Kaltim yang saat ini memiliki lahan sangat besar sehingga dapat menghemat dari segi jumlah tenaga kerja dan bahan pakan.

Dia menjelaskan di hadapan puluhan peserta, bahwa usaha penggemukan sapi yang dia kelola, menampung 250 ekor sapi yang dipelihara pada tiga lokasi dengan luasan sekitar 3.000 meter persegi.

Dari kegiatan usaha itu, Ilham mempekerjakan sedikitnya 17 orang yang digaji antara Rp1,5 juta hingga Rp2,1 juta  perbulan. Jumlah pekerja memang cukup banyak, karena pemeliharaan sapi tidak bisa dilakukan dalam satu tempat. Jika dipelihara dalam satu tempat jumlah pekerja bisa lebih sedikit.

Menyinggung tentang keuntungan yang diperoleh setiap ekor sapi bakalan yang dipelihara untuk penggemukan. Ilham menjelaskan setiap satu ekor bakalan sapi jenis limusin atau simental dia harus membeli dengan harga Rp15 juta dengan bobot hidup 350 kilogram.

Selanjutnya sapi bakalan itu dipelihara dengan sistem intensifikasi, yakni pemberian pakan yang bervariasi, menjaga kebersihan kandang dan sapi serta berbagai obat-obatan yang berguna agar sapi terhindar dari serangan penyakit.

Dengan makanan yang telah disiapkan yang rata-rata membutuhkan biaya Rp30.000 perekor setiap hari. Perhitungan itu sudah termasuk biaya untuk tenaga kerja, sehingga saat menjual dalam  waktu empat bulan peternak sudah mendapat keuntungan bersih.

Dengan biaya pakan dan pekerja Rp30.000 perekor setiap hari. Pertumbuhan sapi rata-rata 1,5 hingga 1,7 kilogram  setiap ekor perhari sehingga dalam waktu 120 hari atau empat bulan bobot sapi sudah mencapai 554 kilogram yang kemudian bisa dijual dengan harga Rp42.000 perkilogram dalam keadaan hidup.

Artinya dalam waktu 120 hari dengan bobot 554 kilogram, peternak sudah bisa menjual sapi hidup mencapai Rp23.268.000 perekor, sehinga dalam setiap penjualan satu ekor sapi, peternak bisa meraih keuntungan Rp4.668.000 yang diperoleh dari harga jual Rp23.268.000 dikurangi biaya pembelian sapi bakalan Rp15 juta ditambah biaya pemeliharaan dan tenaga kerja Rp3.600.000 perekor.

“Saya yakin dengan potensi lahan dan pakan yang ada di Kaltim, usaha penggemukan sapi jauh lebih baik ketimbang di Yogyakarta, karena sapi bisa dipelihara dalam satu kawasan dan makanan tambahan juga tersedia, termasuk jenis rumputan, demikian juga optimalisasi tenaga kerja, sehingga dengan harga daging lebih mahal, keuntungan akan lebih baik,” kata Ilham.

Dalam kesempatan itu, Ilham juga siap memberi pembinaan dan menyiapkan tenaga kerja yang trampil bagi warga Kaltim, terutama para peserta Seminar dan Konseling PNSD Purna Tugas 2018 yang berminat menekuni usaha ini, sebagai bekal saat menjalani masa pensiun empat tahun ke depan.  (eko susanto/sul/hmsprov/bersambung)

//Foto: SIAPA BERMINAT. Sabri (belakang) dan rekannya sesama Peserta OL di kandang penggemukan sapi. (eko/humasprov kaltim).

Berita Terkait