Wagub: Gerakan Lelaki Setia Harus Digalakkan

Rakor Penyusunan Peta Respon Program LBT se Kaltim   

 

SAMARINDA-Wagub Kaltim H Farid Wadjdy menyerukan pentingnya kampanye  gerakan lelaki setia di daerah ini. Pasalnya, kecenderunga penularan  penyakit HIV/AIDS sebagian besar disebabkan perilaku lelaki yang tidak setia kepada istri.           Sosialisasi harus disampaikan bersama tokoh-tokoh ulama termasuk pimpinan perusahaan. Pencegahan penting dilakukan agar penyebaran HIV/AIDS tidak makin meluas.  

“Saya berharap gerakan ini terus disosialisasikan Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Kaltim. Perlu terobosan baru untuk mencegah tingginya penyebaran penyakit ini.  Mari wujudkan gerakan lelaki setia,” kata Farid Wadjdy usai membuka Rapat Koordinasi Penyusunan Peta Respon Program Laki-Laki Beresiko Tinggi (LBT) dan pertemuan triwulan evaluasi pencapaian program KPA Kaltim di Samarinda, Selasa (2/4).

Melalui Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2010 terkait pencapaian target-target pembangunan Millenium Development Goals (MDG’s), penyakit tersebut menjadi masalah kesehatan masyarakat hingga isu prioritas dalam pembangunan nasional.

Dari empat target dan indikator tujuan MDG’s secara nasional pada 2012, yakni  target utamanya adalah penurunan penyakit HIV/AIDS. Sementara yang perlu disosialisasikan adalah penggunaan kondom pada hubungan seks beresiko tinggi yang kini dinilai masih rendah.

Hal ini berdasarkan hasil Survei Terpadu Biologi Prilaku (STBP) 2011, yakni penggunaan kondom di Indonesia baru mencapai 30,5 persen. Sementara, target 2012 penggunaan kondom di Indonesia adalah 45 persen dan 2014 naik jadi 65 persen.

“Situasi HIV/AIDS di dunia saat ini sedang mengkhawatirkan, sebagaimana pernyataan badan kesehatan dunia (WHO), bahwa ada 42 juta orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan sebagian besar menderita penyakit paru Tubercolosis (TB). Bahkan penemuan baru, seorang pengguna Narkoba lebih banyak terjangkit penyakit HIV, khususnya pengguna jarum suntik bergantian,” jelasnya.

Selain itu, sesuai dengan penelitian yang dilakukan Kementerian Kesehatan 2010, di Indonesia terdapat tujuh hingga 10 laki-laki yang menjadi pelanggan seks komersial pertahun. Sementara, konsisten menggunakan kondom dalam hubungan tersebut kurang dari 10 persen.

Dari data Kemenkes Desember 2012 menunjukkan jumlah kasus pengidap HIV sebanyak 82.879 orang, diantaranya 32.545 orang telah menjadi pengidap AIDS dan 5.630 orang telah meninggal. Dari jumlah itu, 73,92 persen adalah laki-laki dan wanita 26,08 persen.

Sementara di Kaltim, sesuai data KPA Kaltim sampai saat ini sudah ditemukan 2.658 pengidap HIV/AIDS, diantaranya 862 sudah menjadi pengidap AIDS dan 415 orang diantaranya sudah meninggal.

“KPA Nasional telah mencatat jumlah pengidap HIV/AIDS di Kaltim mencapai ranking ke 11 dari 33 Provinsi di Indonesia dan mungkin saja rankingnya menjadi 10 besar, apabila kita tidak bertindak dan melakukan upaya pencegahan. Setiap tahun di Kaltim ditemukan rata-rata sebanyak 403 orang pengidap pada umumnya adalah laki-laki,” jelasnya.

Dijelaskan, dari hasil survei di Kaltim pemahaman tentang HIV/AIDS pada usia 15-24 tahun masih rendah, yaitu hanya mencapai 30,4 persen. Padahal target MDG’s 2014 mencapai minimal 80 persen.

Farid berharap kampanye ini berhasil. Menurutnya, keberhasilan suatu bangsa akan sangat ditentukan keberhasilan pembinaan generasi muda. Sebaliknya,  kehancuran suatu bangsa juga diawali oleh kehancuran generasi mudanya. (jay/hmsprov)

Foto : H Farid Wadjdy

Berita Terkait
Government Public Relation