Warga Buton Beri Gelar Kehormatan untuk Awang Faroek dan Farid Wadjdy

SAMARINDA – Gubernur Kaltim Dr H. Awang Faroek Ishak dan Wakil Gubernur H Farid Wadjdy mendapat  gelar kehormatan tertinggi dalam tatanan adat dan budaya  warga Buton Laporo  yang tinggal di Kalimantan Timur.

Awang Faroek mendapat gelar “Cinau” dan Farid Wadjdy bergelar “Lapande” yang keduanya berarti cerdas, bersahaja,  mengayomi, berpihak kepada rakyat, dan mampu mengambil keputusan dengan cepat terhadap suatu masalah di daerah.

Gelar ini diberikan oleh warga Buton di Kaltim dalam rangkaian Peringatan Hari Ulang Tahun ke-12 Kerukunan Warga Kalimantan Timur asal Buton Laporo Sinar Kalibunda, di GOR Segiri Samarinda, Senin malam (24/12).

Dalam sambutannya, Awang Faroek mengatakan suatu kehormatan dirinya dan dan Farid Wadjdy memperoleh gelar tertinggi dalam struktrur pemerintahan masyarakat  Buton tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas gelar ini. Kami berjanji untuk dapat menjaga nama baik dan kehormatan ini dengan bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan  serta kesejahteraan rakyat, termasuk kesejahteraan warga Buton di daerah ini,” ujarnya disambut tepuk tangan undangan yang hadir.

Warga Buton di Kaltim yang berasal Sulawesi Tenggara, lanjutnya adalah masyarakat yang memiliki karakter pekerja keras, jujur, loyal pada aturan dan pemimpin serta berkontribusi besar pada sektor pertanian, perkebunan dan pemerintahan.

Dihadapan ribuan warga Buton Laporo Sinar Kalibunda, Gubernur menyampaikan beberapa hal yang harus dipegang seluruh warga Buton di Kaltim, yaitu tetap mempertahankan persatuan dan kesatuan, menjaga keamanan, ketertiban serta  meminta warga Buton untuk ambil bagian dalam setiap kesempatan kerja dan berpartisipasi pada pembangunan daerah.

“Anda sudah menjadi  bagian dari warga Kaltim. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Warga Buton harus ambil kesempatan dalam pembangunan karena hak warga Buton juga ada didalam kesempatan tersebut,” tegas Awang Faroek.

Awang Faroek juga mengingatkan Warga Buton untuk berhati-hati terhadap masalah pertanahan karena dapat memicu konflik. Untuk itu, Gubernur meminta agar warga Buton mampu menjaga situasi keamanan dengan mengambil upaya cepat dan musyawarah jika terjadi perselisihan.

Sementara itu, Dewan Pembina Kerukunan Warga Kalimantan Timur asal Buton Laporo Sinar Kalibunda, H Bere Ali mengatakan bahwa warga Buton asal Sulawesi Tenggara ada di Kaltim sejak 1900-an saat jaman penjajahan Belanda.

Warga Buton saat itu banyak bekerja di sektor pertambangan dan perkebunan milik Belanda. Setelah Indonesia merdeka, warga Buton menetap dan banyak terjun  dalam berbagai sektor pekerjaan dan juga di pemerintahan.

“Warga Buton di Kaltim saat ini tercatat mencapai 130 ribu jiwa yang tersebar di 14 kabupaten/kota dengan komposisi terbesar berada di Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara dan Tarakan,” jelasnya.(yul/hmsprov).

Foto : Gubernur Kaltim Dr H. Awang Faroek Ishak didampingi Wakil Gubernur H Farid Wadjdy memotong tumpeng usai menerima gelar kehormatan tertinggi dalam tatanan adat dan budaya  warga Buton Laporo yang disaksikan Wakil Bupati Buton La Bakri (kanan) dan Dewan Pembina Kerukunan Warga Kalimantan Timur asal Buton Laporo Sinar Kalibunda, H Bere Ali.(fajar/humasprov kaltim)

Berita Terkait