Wilayah 3T Perlu Perlakuan Khusus

Dari Seminar Pendidikan HUT PGRI Kaltim ke-68

SAMARINDA–Pendidikan bagi wilayah tertinggal, terpencil dan terluar (3 T) di Kaltim memerlukan perlakuan khusus agar terjadi perluasan dan pemerataan pendidikan di seluruh Kaltim.   
Perlakukan khusus tersebut dapat berupa sekolah berasrama, penggunaan teknologi informasi dan internet serta penyatuan sekolah dari tingkat dasar hingga menengah atas di satu lokasi.  Demikian dikatakan Wakil Gubernur Kaltim, H Farid Wadjdy saat membuka seminar bertajuk Strategi Pendidikan Sistem 3 T di Kaltim dalam rangka HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kaltim ke-68 di Samarinda, Sabtu (9/11).  
Dijelaskan Farid, strategi pendidikan untuk wilayah 3 T memang memerlukan kerja keras dari semua pihak terutama para pendidik yang hingga saat ini penyebarannya tidak merata antara wilayah 3 T dan daerah perkotaan.  
“Untuk itu usulan dengan menaikkan insentif bagi guru-guru yang mengajar di daerah tertinggal, terpencil dan terluar perlu dipikirkan. Sehingga ada gairah guru-guru di Kaltim untuk mengabdi di wilayah 3 T tersebut,” ujarnya.  
Farid Wadjdy yang juga bertindak sebagai keynote speaker mengatakan kondisi geografis di Kaltim yang sangat variatif, mulai dari dataran yang dapat dijangkau dengan kondaraan  roda empat hingga pelosok-pelosok pedalaman yang hanya dapat ditempuh dengan sungai dan udara saja.
Untuk itu dirinya mengusulkan kepada Dinas Pendidikan agar mewacanakan para guru yang baru diangkat wajib bertugas selama beberapa waktu di wilayah tertinggal, terpencil dan terluar di Kaltim.  
Usulan ini sebenarnya sangat baik untuk menempa mental dan motivasi  sehingga seorang guru tidak saja harus pandai mengajar tetapi juga harus mampu menghadapi berbagai persoalan di lapangan.  
“Jadi sebelum seorang guru diangkat harus ada kesepakatan agar dapat bertugas di daerah 3 T tersebut selama beberapa waktu. Diharapkan cara ini dapat mengatasi persoalan keterbatasan pendidikan di daerah 3 T,” ujarnya.  
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, H Musyahrim mengatakan  tujuan dari seminar HUT PGRI Kaltim ini adalah mencari solusi tentang pelayanan di daerah 3 T yang belum dilaksanakan secara luas dan maksimal.  Pendidikan di daerah 3 T ujar Musyahrim sangat terkendala oleh kondisi geografi, sosial kemasyarakatan dan keterbatasan akses pembangunan.  
Dijelaskannya, selama ini banyak desa yang hanya dihuni oleh 30 hingga 50 kepala keluarga. Sehingga untuk mendirikan sekolah akan mubazir, tetapi jika tidak ada sekolah maka anak-anak harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah.  
“Persoalan-persoalan inilah yang harus dapat dipecahkan oleh PGRI dalam hari ulang tahunnya ke-68. Semoga pendidikan di wilayah 3T dapat sama kualitasnya dengan pendidikan di perkotaan,” ujarnya.  
Selain dihadiri Wagub Farid Wadjdy, hadir pula Ketua PGRI Pusat, Dr Sulistyo dan Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr Unifah Rosydi serta ratusan guru dari 14 kabupaten/kota di Kaltim, khususnya yang selama ini bertugas di wilayah pedalaman, terpencil dan terluar Kaltim. (yul/hmsprov)

//Foto: PEMERATAAN PENDIDIKAN. Wagub Kaltim berbincang dengan Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dr Unifah Rosydi. (yuliawan/humasprov kaltim).


 

Berita Terkait
Government Public Relation